MANAJEMEN KRISIS
MANAJEMEN
KRISIS
Pengertian isu, krisis, dan konflik
•
Krisis yang menimpa suatu
organisasi atau perusahaan bisa disebabkan oleh berkembangnya suatu isu.
•
Isu adalah suara
negatif/miring baik di masy. ataupun di
media massa tentang organisasi atau perusahaan kita, tapi belum memberikan
dampak yang signifikan terhadap kinerja organisasi.
•
Apabila tidak dikelola dengan baik, suatu isu kemungkinannya akan bisa
berpengaruh pada kinerja organisasi atau perusahaan (demonstrasi, mogok kerja,
dlsb.).
•
Dengan demikian maka isu
tersebut telah berubah menjadi krisis
•
Isu juga bisa berkembang
karena adanya konflik, baik yang bersifat internal maupun eksternal.
•
Konflik adalah suatu
perjuangan atau kontes diantara orang-orang yang memiliki kebutuhan, gagasan
kepercayaan, nilai, atau tujuan yang berlawanan.
•
Konflik bisa semakin
memanas dan menghasilkan akibat yang tidak produktif, akan tetapi konflik bisa diselesaikan dan menuju ke produk akhir yang berkualitas.
•
Konflik sering terjadi
karena miskomunikasi berkaitan dengan kebutuhan, gagasan, tujuan, dan nilai
dari mereka yang saling terlibat konflik (http://www.
foundationcoalition.org/teams).
•
Isu tentang kematian karyawan sebagai akibat dari
tindak kekerasan yang dilakukan oleh majikan, meskipun hal itu tidak sepenuhnya
betul, bisa memancing kemarahan karyawan lainnya atau bahkan masyarakat sekitar
perusahaan untuk melakukan pengrusakan atau bahkan pembakaran bangunan atau
fasilitas organisasi atau perusahaan.
•
Konflik antara perusahaan dengan klien/
konsumennya yang mengeluhkan pelayanan yang diberikan oleh perusahaan terhadap
kliennya bisa berkembang menjadi krisis ketika persoalan itu berhasil menyentuh hati dan perasaan orang banyak.
DAMPAK KRISIS
•
Selain dapat menimbulkan kerugian secara
material, seperti menurunnya kinerja yang berakibat pada penurunan omzet
penjualan, krisis juga bisa berdampak
kepada merosotnya atau bahkan rusaknya citra organisasi atau perusahaan di mata
publiknya.
•
Meskipun krisis citra
sering diakibatkan oleh krisis manajemen, tapi bukan berarti begitu krisis
manajemen selesai maka krisis citra juga dengan sendirinya usai (Silih Agung
Wasesa dan Jim MacNamara, 2010: 84).
•
Selain dapat menimbulkan kerugian secara
material, seperti menurunnya kinerja yang berakibat pada penurunan omzet
penjualan, krisis juga bisa berdampak
kepada merosotnya atau bahkan rusaknya citra organisasi atau perusahaan di mata
publiknya.
•
Meskipun krisis citra
sering diakibatkan oleh krisis manajemen, tapi bukan berarti begitu krisis
manajemen selesai maka krisis citra juga dengan sendirinya usai (Silih Agung
Wasesa dan Jim MacNamara, 2010: 84).
•
Silih Agung Wasesa dan Jim MacNamara: “Suatu hal
yang sering terjadi dalam krisis citra sebuah perusahaan adalah krisis citra
berkembang jauh lebih besar dari pada kenyataan yang terjadi di lapangan. Oleh
karena itu penanganannya bukan terletak pada selesai tidaknya masalah krisis
manajemen dalam perusahaan, tapi lebih jauh lagi, harus melihat lagi apakah
citra perusahaan di mata publik sudah membaik atau belum” (Silih Agung Wasesa
dan Jim Macnamara, 2010:84).
TAHAPAN KRISIS
Rhenald Kasali membagi
anatomi krisis kedalam empat tahap, yaitu:
- Tahap Prodromal, dimana krisis baru
muncul dan belum mempunyai dampak yang luas terhadap citra perusahaan.
- Tahap Akut, merupakan pola
krisis dimana persoalan mulai muncul ke permukaan. Tahap ini terjadi
biasanya karena kelengahan manajemen untuk menanggapi tahap prodromal.
Tidak jarang, pihak-pihak yang memiliki kepentingan berbeda memanfaatkan
krisis ini secara maksimal.
- Tahap Kronik, dimana krisis
telah berlalu dan yang tinggal hanyalah puing-puing masalah akibat krisis.
Korban juga sudah banyak yang berjatuhan akibat krisis ini. Jadi tahap ini
lebih menyoal bagaimana membersihkan kerusakan-kerusakan akibat krisis.
- Tahap Resolusi, dimana manajemen
harus memulihkan kekuatan agar kembali seperti sediakala hingga dapat
melanjutkan aktivitas sebelumnya dengan normal kembali.
PENANGANAN KRISIS
Ada paling tidak dua
tahapan yang perlu dilakukan untuk penanganan krisis:
•
Kalau krisis terjadi
karena adanya konflik internal maupun eksternal maka penyelesaian konflik akan
menjadi bagian penting dari penanganan krisis.
•
Akan tetapi, sekali pun
konflik sudah dapat diselesaikan, citra organisasi atau perusahaan tidak dengan
sendirinya akan membaik kembali atau persoalan penanganan krisis dengan
sendirinya selesai.
•
Masih diperlukan kerja keras untuk menjaga agar
citra organisasi atau perusahaan tidak merosot akibat konflik, atau memulihkan
kembali citra yang terlanjur merosot akibat terjadinya konflik.
MANAJEMEN KONFLIK
Mispersepsi seringkali
menimbulkan konflik:
- pandangan bahwa
musuh jahat seperti setan,
- dirinya sendiri yang
paling jantan,
- dirinya sendiri yang
paling moralis,
- tidak memperhatikan
hal-hal yang bertentangan dengan keyakinan (informasi dari musuh adalah
selalu tidak benar),
- tidak adanya rasa
empati, dan keyakinan berlebihan akan kekuatan pihak lain yang dapat
mengancam kepentingannya
KOMUNIKASI DAN KONFLIK
•
Mispersepsi bisa terjadi
karena miskomunikasi.
•
Rumitnya jaringan dan ruwetnya jalur-jalur
komunikasi memungkinkan terjadinya ‘distorsi pesan’, hal ini pada akhirnya
dapat menimbulkan ‘salah komunikasi’ (miscommunication), dapat pula
menjadi ‘salah persepsi’ (misperception), yang pada gilirannya ‘salah
interpretasi’ (misinterpretation), yang pada giliran berikutnya terjadi
‘salah pengertian’ (misunderstanding).
•
Dalam hal-hal tertentu
salah pengertian ini menimbulkan ‘salah perilaku’ (misbehavior).

Komentar
Posting Komentar